Makalah Diare Pada Anak

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua.  sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak. (anaksehat.blogdrive.com).

Menurut data United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare

Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria, dan cacar jika digabung. Sayang, di beberapa negara berkembang, hanya 39 persen penderita mendapatkan penanganan serius.

 

 

 

Di Indonesia sendiri, sekira 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekira 460 balita setiap harinya akibat diare. Daerah Jawa Barat merupakan salah satu yang tertinggi, di mana kasus kematian akibat diare banyak menimpa anak berusia di bawah 5 tahun. Umumnya, kematian disebabkan dehidrasi karena keterlambatan orangtua memberikan perawatan pertama saat anak terkena diare.

Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan merupakan faktor utamanya. Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger.

Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu pemicu diare baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi mematikan di saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di makanan. (lifestyle.okezone.com).

Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun

Kasubdit Diare dan Kecacingan Depkes, I Wayan Widaya mengatakan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan KLB (kejadian luar biasa) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut, terutama disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat. (piogama.ugm.ac.id).

Sedangkan di Provinsi Riau Pada 27 maret 2008 tercatat Diare 182 kasus yang diakibatkan adanya banjir di Provinsi Riau. Adapun kecamatan yang terkena banjir sebanyak 36 kecamatan, 164 desa, 29.950 Kepala Keluarga atau 60.950 Jiwa. (yankesriau.wordpress.com).

Sepintas diare terdengar sepele dan sangat umum terjadi. Namun, ini bukan alasan untuk mengabaikannya, dehidrasi pada penderita diare bisa membahayakan dan ternyata ada beberapa jenis yang menular.Diare kebanyakan disebabkan oleh Virus atau bakteri yang masuk ke makanan atau minuman, makanan berbumbu tajam, alergi makanan, reaksi obat, alkohol dan bahkan perubahan emosi juga dapat menyebabkan diare, begitu pula sejumlah penyakit tertentu. (lovenhealth.blogspot.com).

 

B. Tujuan Penulisan

Tujuan Umum

Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare

Tujuan Khusus

1.      Untuk mengetahui tinjauan teoritis diare

2.      Untuk mengetahui Pengkajian pada anak dengan diare

3.      Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada anak dengan diare

4.      Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan diare

5.      Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada anak dengan diare

6.      Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada anak dengan diare

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

 

  1. Konsep Dasar Penyakit

1.      Pengertian

Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.

Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.

Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

 

2.      Etiologi

a.       Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).

b.      Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

c.       Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.

d.      Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.

e.       Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).

 

3.      Manifestasi klinis

Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.

Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)

Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.

Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

 

4.      Pemeriksaan Diagnostik

- Pemeriksaan tinja.

- Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.

- Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.

- Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.

 

5.      Penatalaksanaan

 

Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.

Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal.

Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease).

Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi kuman.

Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi sudah membaik.

 

6.      Komplikasi

Menurut Broyles (1997) komplikasi diare  ialah: dehidrasi, hipokalemia, hipokalsemia, disritmia jantung (yang disebabkan oleh hipokalemia dan hipokalsemia), hiponatremia, dan shock hipovolemik.

 

  1. Konsep Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian

Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :

1. Identitas klien.

2. Riwayat keperawatan.

· Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.

· Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.

3. Riwayat kesehatan masa lalu.

Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

4. Riwayat psikososial keluarga.

Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.

5. Kebutuhan dasar.

· Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.

· Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.

· Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

· Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.

· Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.

6. Pemerikasaan fisik.

a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran  composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.

b. Pemeriksaan sistematik :

· Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.

· Perkusi : adanya distensi abdomen.

· Palpasi : Turgor kulit kurang elastis

· Auskultasi : terdengarnya bising usus.

c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.

d. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.

e. Pemeriksaan penunjang.

f.Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.

 

2.      Diagnosa yang Mungkin Muncul

a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.

c. Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

d. Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya

e. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.

f. Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru

 

3.      Intervensi dan Rasional

Dx.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)

Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi

 

Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi

Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan

 

Pantau intake dan output. yang keluar bersama feses.

Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti.
Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa
Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif

Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui
Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan berat badan

 

Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
Menurunkan kebutuhan metabolic

 

Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.
Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanju
Dx.3 : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

Tujuan : Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal

Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri
Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen

Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian klien dan meningkatkan kemampuan koping

Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit

Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi

 

Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi

Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis

 

Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal

Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya

Dx.4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.
Tujuan : Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.

 

Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.

Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah

 

Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama

Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian

 

Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.

Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan
Dx.5 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.

Tujuan : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.

Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya.

Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya.

 

Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.

Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien
Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul

Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.

 

Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi

Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya

 

Dx. 6 : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru

Tujuan : Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan

 

Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perawatn yang dilakukan

Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan

 

Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin

Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress

 

Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan klien

Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimum

 

4.      Implementasi

Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan sebelumnya.

 

5.      Evaluasi

Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai.

 

 

BAB III

TINJAUAN KASUS

A.                Pengkajian

1.   Identitas Pasien

Nama             : Anak Arya

Umur              : 4 bulan

Jenis kelamin           : laki-laki

Alamat                        : Kulim Jalan Harapan Raya

Tanggal Masuk: 23 oktober 2010

Diagnosa medis: gastroenteritis

 

Nama Ayah   : Tuan Endang

Umur              :35 tahun

Pekerjaan      : wiraswasta

Pendidikan   : SMA

Suku bangsa            : sunda

Alamat                        : Kulim Jalan Harapan Raya

 

Nama Ayah   : Bu Novi

Umur              : 31 tahun

Pekerjaan      : wiraswasta

Pendidikan   : SMA

Suku bangsa            : sunda

Alamat                        : Kulim Jalan Harapan Raya

 

 

1.      Keluhan Utama

Alas an masuk dengan keluhan BAB berlendir dan berdarah sudah 4 hari yang lalu. BAB yang sedikit tapi sering sekitar 7-8 kali perhari.ps. masuk via IGD Rujukan dr. Arya Bunda.

3.   Keadaan Umum

Tingkat kesadaran compos mentis, panjang badan 65 cm, BB 6 kg, LILA 35 cm, lingkar kepala 18 cm, TTV: Suhu: 36,6 C, Nadi 140 x/menit, RR 46 x/menit, keluhan lain BAB berlendir dan berdarah serta encer.

 

4.   Riwayat kesehatan

                  keluhan utama BAB encer, berlendir dan berdarah,sehari bias 7-8 kali. Keluhan sudah ada 4 hari sebelum pasien masuk RS, factor pencetus adalah alergi susu sapi. Pada riwayat kesehatan dahulu tidak ada penyakit berat dan tidak ada dioperasi, keluarga tidak ada penyakit menular atau keturunan.

 

5.   Riwayat Imunisasi

imunisasi belum lengkap, imunisasi yang didapat adalah BCG, DPT, Polio, imunisasi yang belum didapat adalah Campak, waktu imunisasi adalah sebelum dirawat di RS.

 

6.   Psikososial

hubungan dengan anggota keluarga anak sangat dekat dengan ayah dan ibunya. ps tidak ada teman sebaya. karakter periang.

 

7.   Riwayat Tumbuh Kembang

motorik halus, motorik kasar, kognitif dan bahasa berkembang dengan baik.

 

8.   Jenis Kebutuhan

a.    makanan, pada kondisi sehat nakan teratur, makanan air tajin, 3x/ hari. selama sakit ps tidak diperbolehkan minum susu sapi oleh dokter, intake inadekuat, mengisap putting susu lemah, ASI diberikan tidak adekuat, ibu jarang menyusui bayinya.

b.   cairan, selama sehat ps minum susu teratur, selama sakit masukan oral sebayak 300cc dan pemasukan parenteral sebanyak 250cc total 550 cc.

c.    eliminasi, selama sehat frekuensi BAK 5-6 kali perhari, warna kuning bening bau khas, jumlah 350- 400 cc/ hari. selama sakit frekuensi 6-7 kali perhari, warna kuning, bau khas, tidak terpasang kateter, ada tahana waktu BAK, ps tampak mengedan saat BAK.  BAB selama sehat 1 x / hari, konsistensi lembek, mengikuti bentuk kolon. warna dan bau tidak terkaji. waktu sakit BAB 7-8 x /  hari dengan konsistensi encer, tidak mengikuti bentuk kolon, warna kuning kemerahan, bau amis, jumlah tidak terkaji, ada lendir dan darah, ps tampak mengedan saat BAB dan meringis, tidak ada pemakaian laksatif.

d.   tidur, selama sehat pola tidur teratur, malam 9-10 jam, siang 1,5 jam, jumlah jam tidur 11,5 jam. waktu sakit, pola teratur, malam 9-10 jam, siang 11,5 jam,

e.    kebutuha bermain, waktu sehat, jenis permainan tepuk tangan frekuensi sering jika ps tidak bisa tidur, 16 menit tiap bermain, teman bermain ibu pasien. waktu sakit permainan sama.

 

9.   Pemeriksaan Fisik

a.    kepala :  lingkar kepala 37 cm, distribusi rambut hanya dibagian atas saja tekstur rambut halus, warna hitam, tidak ada lesi, wajah agak pucat.

b.    Mata : mata simetris, palpebra tidak ada pembengkakan, konjungtiva agak pucat, sclera putih,m ukuran pupil 2 cm, reaksi pupil +/+ kiri dan kanan..

c.    Hidung : hidung simetris, warna sama dengan kulit sekitar, bersih, septumdan konka hidung tidak ada kelainan, tidak ada sekret dan polip.

d.   Telinga: posis sejajar kiri dan kana, tidak ada secret, membrane timpani tidak ada peradangan, ketajaman penuh. Tidak ada nyri aurikel dan mastoid.

e.    Mulut : simetris, bersih, bibir normal, gigi belum lengkap, tonsil normal.

f.     Thorak / dada paru : bentuk normal chest, simetris, pernafasan dada, gerakan paru simetris, ekspansi dada simetris, taktil fremitus teraba, sura paru sonor, suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan.

g.    Jantung: iktus kordis tidak terlihat, precordial fraction rub tidak terlihat, iktus kordis teraba, batas jantung jelas dan tidak ada pembesaran, suara organ jantung pekak, bunyi jantung S1 dan S2 terdengar, intensitas S1>S2 dan bunyi reguler.Tidak ada bunyi jantung tambahan.

h.    Abdomen dan anus : abdomen bentuk soepel, simetris, warna sama dengan kulit sekitar, tidak ada lesi dan asites. Bising usus 38 x / menit, bunyi bruit tidak terdengar. Suara abdomen tympani, tidak terdapat massa dan pembesaran, titik mc burney tidak ada nyeri, tanda peritonitis tidak ada. Palpasi dalam pada hepar dan limpa tidak terdapat pembesaran dan nyeri. Warna anus merah muda / kemerah-merahan. terdapat lesi, tidak ada fistula dan hemoroid.

i.      Genitalia : simetris, tidak terpasang kateter dan tidak ada kelainan.

j.      Ektremitas dan punggung : punggung tidak ada lesi, tidak ada nyeri dan kelainan tulang belakang. Ekstremitas simetris, tidak ada edema dan deformitas tulang. Palpasi tulang dan sendi normal. Kekuatan otot 5. Tidak ada keterbatasan gerak.

k.    Kulit : lesi tidak ada, kulit lembab, turgor elastisitas, tekstur elastic, tidak ada kemerah merah.

 

10. Pemeriksaan Neurologis

Reflek fisiologis: babynski +, rooting +, soaking lemah, bayi malas mengisap putting susu ibunya, reflek meningeal: kejang + tiap sebentar,sekitar 5 detik.

 

11. Hasil Pemeriksaan Diagnostic

-  Pemeriksaan Hb = 9,8 gr% ( 04 Nov. 2010)

-  Pemeriksaan Hb = 10,2 gr% ( 05 Nov. 2010)

-  Pemeriksaan Hb = 10,7 gr% ( 06 Nov. 2010)

 

12. Terapi Yang Diberikan

     02-11-2010 :

Luminal 2 x  15 mg

Oralit 50 mg tiap mencret

Diit ML 700 kkal

IVFD Kaen IIIB 28 tts / i

 

03-11-2010 :

Luminal 2 x  15 mg

Oralit 50 mg tiap mencret

Diit ML 700 kkal

IVFD Kaen IIIB 28 tts / i

 

02-11-2010 :

Luminal 2 x  15 mg

Oralit 50 mg tiap mencret

Diit ML 700 kkal

IVFD Kaen IIIB 28 tts / i

 

B.                 Analisa Data

No.

Data Fokus

Penyebab

Masalah

1. DO:

  • BAB encer, berlendir serta berdarah
  • KU ps. Lemah
  • Bising usus 38x/menit
  • BAB 7-8 Perhari
  • TTV: Suhu: 36,6 C, Nadi 140 x/menit, RR 46 x/menit

DS:

  • Keluaga mengatakan BAB encer sudah 4 hari, jumlah sedikit.
Alergi susu sapi Diare
2. DO:

  • Warna anus kemerahan
  • Terdapat lesi disekitar anus
  • Frekuensi diare 7-8 x/ hari
  • Daerah sekitar anus lembab

DS:

  • Keluarga mengatakan lesi dibagian anus sudah 2 hari.
ekskresi/BAB sering Kerusakan integritas kulit
3. Do:

  • Bayi tampak malas menyusu kepada ibunya
  • Reflek menyusu lemah
  • BB turun = 6,5 kg – 6 kg dalam 3 hari
  • KU lemah
  • Ps. Hanya minum susu ASI
  • Hb: 9,8 gr%
  • Wajah bayi agak pucat

 

DS:

  • Ibunya mengataka bahwa jarang menyusui anaknya
  • Ibunya mengatakan mrnyusui anaknya tidak teratur
Kelemahan reflek menyusui Menyusui tidak efektif

 

C.                Diagnosa Keperawatan

  • Diare b.d Alergi susu sapi
  • kerusakan integritas kulit b.d ekskresi/BAB sering
  • Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui

 

D.                Intervensi

No

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

(NOC)

Intervensi

(NIC)

1

Diare b.d Alergi susu sapi

Ditandai dengan :

  • Keluaga mengatakan BAB encer sudah 4 hari, jumlah sedikit.
  • BAB encer, berlendir serta berdarah
  • KU ps. Lemah
  • Bising usus 38x/menit
  • BAB 7-8 Perhari
  • TTV: Suhu: 36,6 C, Nadi 140 x/menit, RR 46 x/menit
Setelah dilakukan tidakan keperawatan dalam 5 x 24 jam eliminasi BAB dan status hidrasi efektif.

 

Kriteria hasil:

  • Tidak ada diare
  • Konsistensi tidak cair
  • Ada ampas
  • Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
  • TTV dalam batas normal
  • Bising usus dalam batas normal
Fluid management

  • Timbang popok/pembalut jika diperlukan
  • Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
  • Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
  • Monitor vital sign
  • Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
  • Kolaborasikan pemberian cairan intravena IV
  • Monitor status nutrisi
  • Dorong masukan oral
  • Kontrol bising usus
  • Dorong keluarga untuk membantu pasien minum susu
  • Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
  • Berikan oralit sesuai indikasi

2

kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering

DO:

  • Warna anus kemerahan
  • Terdapat lesi disekitar anus
  • Frekuensi diare 7-8 x/ hari
  • Daerah sekitar anus lembab

DS:

Keluarga mengatakan lesi dibagian anus sudah 2 hari.

Setelah dilakukan tidakan keperawatan dalam 5 x 24 jam membrane mukosa dan kulit kembali efektif

 

Kriteria Hasil :

v  Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)

v  Tidak ada luka/lesi pada kulit

v  Perfusi jaringan baik

v  Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang

v  Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

Skin care

§  Hindari kerutan padaa tempat tidur

§  Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

§  Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali

§  Monitor kulit akan adanya kemerahan

§  Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan

§  Monitor status nutrisi pasien

§  Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

§  Jaga kulit tetap kering

3

Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui d.d:

Do:

  • Bayi tampak malas menyusu kepada ibunya
  • Reflek menyusu lemah
  • BB turun = 6,5 kg – 6 kg dalam 3 hari
  • KU lemah
  • Ps. Hanya minum susu ASI
  • Hb: 9,8 gr%
  • Wajah bayi agak pucat

 

DS:

  • Ibunya mengatakan bahwa jarang menyusui anaknya
  • Ibunya mengatakan mrnyusui anaknya tidak teratur
Setelah dilakukan tidakan keperawatan dalam 7 x 24 jam status nutrisi dan menyusui efektif.

Kriteria Hasil :

  • Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
  • malnutrisi
  • Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
  • Ibu mau menyusui anaknya dengan teratur
  • Reflek menyusui anak baik
  • Hb dalam batas normal
  • Bayi tidak lagi malas mengisap putting susu
  • Bayi tidak lagi pucat
Nutrition Management

§  Kaji BB setiap hari

§  Kaji adanya kelemahan dan kelasan bayi dalam menyusui

§  Kaji kadar Hb

§  Ajarkan ibu pentingnya memberi susu secara teratur

§  Kaji adanya pucat

§  Beritahu ibu pentingnya ASI bagi bayi

 

 

E.                 Implementasi dan Evaluasi

Tanggal

/ hari

Jam No. Dx Implementasi Evaluasi Paraf

04

Nov.

2010

Kamis

09.00

09.10

10.00

 

12.00

12.30

12.45

13.00

I

  • Mengukur TTV
  • Mengkaji keadaan umum ps
  • Memberikan cairan lewat infus
  • Mengukur balance cairan
  • Mengkaji BAB
  • Menimbang popok
  • Mengukur bising usus
S: -

O:

-      berat popok 500 gr

-      TTV: S: 36,6 C

N: 140x/menit

RR:46 X/menit

-      IVFD=RL 20 tts / menit  mikro.

-      Balance cairan +150 ml

-      KU ps lemah

-      BAB encer, berlendir, dan berdarah

-      Bisisng usus = 38 x / menit

A: Diare b.d Alergi susu sapi belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

TTD

04

Nov.

2010

Kamis

09.00

09.10

 

19.15

 

 

10.00

12.00

II
  • Mengkaji adnya lesi
  • Mengkaji frekuensi diare setiap 24 jam
  • Mengobservasi tanda – tanda kerusakan integritas kulit
  • Memandikan ps
  • Melakukan verbeden
S:

-            keluaga mengatakan ada lesi dibagian anus

O:

-           frekuensi diare 7-8 x/ hari

-           terdapat kemerahan disekitar anus

-           verbeden setiap hari

-           ps. Tamapk tenag setelah dimandikan dan diberi lotion

A: kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

TTD

04

Nov.

2010

    Kamis

10.00

 

12.00

12.10

12.15

12.30

 

 

12.45

III §  mengkaji kekuatan menusui pada bayi

§  menimbang BB

§  Mengkaji turgor kulit

§  Mengkaji adanya alergi

§  Mengkaji tingkat kerajinan ibu dalam menyusui bayinya.

§  Memberiakn diit sesuai indikasi

§  Mengukur Hb

S:-

O:

-      Ps. Alergi susu sapi

-      Diit diberikan sesuai konsultasi ahli gizi

-      BB: 6 kg

-      Turgor kulit jelek

-      Lingkungan nyaman selama pemberian diit

-      Tidak ada perubahan pigmen kulit

-      Hb 9,8 gr%

A: Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui belum teratasi

P : intervensi dilanjutkan

TTD

 

 

Tanggal

/ hari

Jam No. Dx Implementasi Evaluasi Paraf

06

Nov.

2010

Sabtu

09.00

09.10

10.00

 

12.00

12.30

12.45

13.00

I

  • Mengukur TTV
  • Mengkaji keadaan umum ps
  • Memberikan cairan lewat infus
  • Mengukur balance cairan
  • Mengkaji BAB
  • Menimbang popok
  • Mengukur bising usus
S: -

O:

-      berat popok 400 gr

-      TTV: S: 36,8 C

N: 148 x /menit

RR:50 x /menit

-      IVFD=RL 20 tts / menit  mikro.

-      Balance cairan +170 ml

-      KU ps lemah

-      BAB encer, berlendir, dan berdarah

-      Bisisng usus = 36 x / menit

A: Diare b.d Alergi susu sapi belum teratasi

P=Intervensi dilanjutkan

TTD

06

Nov.

2010

Sabtu

09.00

09.10

 

19.15

 

 

10.00

12.00

II
  • Mengkaji adnya lesi
  • Mengkaji frekuensi diare setiap 24 jam
  • Mengobservasi tanda – tanda kerusakan integritas kulit
  • Memandikan ps
  • Melakukan verbeden
S:

-            keluaga mengatakan masih ada lesi dibagian anus

O:

-           frekuensi diare 6-7 x / hari

-           terdapat kemerahan disekitar anus

-           verbeden setiap hari

-           ps. Tampak tenag setelah dimandikan dan diberi lotion

A: kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

TTD

06

Nov.

2010

Sabtu

10.00

 

12.00

12.10

12.15

12.30

 

 

12.45

 

13.00

III §  mengkaji kekuatan menusui pada bayi

§  menimbang BB

§  Mengkaji turgor kulit

§  Mengkaji adanya alergi

§  Mengkaji tingkat kerajinan ibu dalam menyusui bayinya.

§  Memberiakn diit sesuai indikasi

§  Mengukur Hb

S:-

O:

-      Ps. Alergi susu sapi

-      Diit diberikan sesuai konsultasi ahli gizi

-      BB: 6,1 kg

-      Turgor kulit jelek

-      Lingkungan nyaman selama pemberian diit

-      Tidak ada perubahan pigmen kulit

-      Hb 10,2 gr%

A: Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui belum teratasi

P : intervensi dilanjutkan

TTD

 

Tanggal

/ hari

Jam No. Dx Implementasi Evaluasi Paraf

05

Nov.

2010

Jumat

09.00

09.10

10.00

 

12.00

12.30

12.45

13.00

I

  • Mengukur TTV
  • Mengkaji keadaan umum ps
  • Memberikan cairan lewat infus
  • Mengukur balance cairan
  • Mengkaji BAB
  • Menimbang popok
  • Mengukur bising usus
S: -

O:

-      berat popok 350 gr

-      TTV: S: 36,5 C

N: 140 x /menit

RR: 46 x /menit

-      IVFD=RL 20 tts / menit  mikro.

-      Balance cairan +170 ml

-      KU ps lemah

-      BAB encer, berlendir, dan berdarah

-      Bising usus = 32 x / menit

A: Diare b.d Alergi susu sapi belum teratasi

P=Intervensi dilanjutkan

TTD

05

Nov.

2010

Jumat

09.00

09.10

 

19.15

 

 

10.00

12.00

II
  • Mengkaji adnya lesi
  • Mengkaji frekuensi diare setiap 24 jam
  • Mengobservasi tanda – tanda kerusakan integritas kulit
  • Memandikan ps
  • Melakukan verbeden
S:

-            keluaga mengatakan masih ada lesi dibagian anus

O:

-           frekuensi diare 5 x / hari

-           terdapat kemerahan disekitar anus

-           verbeden setiap hari

-           ps. Tampak tenag setelah dimandikan dan diberi lotion

A: kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

TTD

05

Nov.

2010

Jumat

10.00

 

12.00

12.10

12.15

12.30

 

 

12.45

 

13.00

III §  mengkaji kekuatan menusui pada bayi

§  menimbang BB

§  Mengkaji turgor kulit

§  Mengkaji adanya alergi

§  Mengkaji tingkat kerajinan ibu dalam menyusui bayinya.

§  Memberiakn diit sesuai indikasi

§  Mengukur Hb

S:-

O:

-      Ps. Alergi susu sapi

-      Diit diberikan sesuai konsultasi ahli gizi

-      BB: 6,3 kg

-      Turgor kulit jelek

-      Lingkungan nyaman selama pemberian diit

-      Tidak ada perubahan pigmen kulit

-      Hb 10,7 gr%

A: Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui belum teratasi

P : intervensi dilanjutkan

TTD

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

 

A.     Pengkajian

Sesuai dengan pengkajian teoritis dibandingkan dengan Pengkajian pada Anak Arya dengan Gastroenteritis maka didapatkan data senajng sebagai berikut :

No.

Data Senjang

Penyebab

Masalah

1. DO:

  • BAB encer, berlendir serta berdarah
  • KU ps. Lemah
  • Bising usus 38x/menit
  • BAB 7-8 Perhari
  • TTV: Suhu: 36,6 C, Nadi 140 x/menit, RR 46 x/menit

DS:

  • Keluaga mengatakan BAB encer sudah 4 hari, jumlah sedikit.
Alergi susu sapi Diare
2. DO:

  • Warna anus kemerahan
  • Terdapat lesi disekitar anus
  • Frekuensi diare 7-8 x/ hari
  • Daerah sekitar anus lembab

DS:

  • Keluarga mengatakan lesi dibagian anus sudah 2 hari.
ekskresi/BAB sering Kerusakan integritas kulit
3. Do:

  • Bayi tampak malas menyusu kepada ibunya
  • Reflek menyusu lemah
  • BB turun = 6,5 kg – 6 kg dalam 3 hari
  • KU lemah
  • Ps. Hanya minum susu ASI
  • Hb: 9,8 gr%
  • Wajah bayi agak pucat

 

DS:

  • Ibunya mengatakan bahwa jarang menyusui anaknya
  • Ibunya mengatakan mrnyusui anaknya tidak teratur
Kelemahan reflek menyusui Menyusui tidak efektif

 

Data senjang diatas sesuai dengan pengkajian teoritis yang telah dibuat.

 

 

 

B.     Diagnosa Keperawatan

Secara teoritis diagnosa keperawatan yang berkemungkinan muncul pada diare ada 6 diagnosa. Dari 6 diagnosa keperawatan tersebut, hanya 3 diagnosa yang kelompok temukan pada kasus ini. Adapun diagnosa yang muncul pada anak Arya Yaitu:

  1. Diare b.d Alergi susu sapi

Diagnosa ini diangkat karena bayi tersebut diare disebabkan oleh alergi susu sapi.

  1. kerusakan integritas kulit b.d ekskresi/BAB sering

Diagnosa ini diangkat karena pada anus pasien sudah terdapat lesi dan warnanya merah muda

  1. Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui

Diagnosa ini diangkat karena bayi tampak malas menyusui dan menyusui tidak teratur

C.     Perencanaan

1.      Intervensi Fluid management diangkat  diharapkan  eliminasi BAB  dan status hidrasi bias efektif

  1. Intervensi Skin care diangkat diharapkan membrane mukosa dan kulit kembali efektif
  2. Intervensi Nutrition Management diangkat diharapkan status nutrisi dan menyusui efektif.

 

  1. Implementasi
  1. Diare b.d Alergi susu sapi

1.      Mengukur TTV

2.      Mengkaji keadaan umum ps

3.      Memberikan cairan lewat infus

4.      Mengukur balance cairan

5.      Mengkaji BAB

6.      Menimbang popok

7.      Mengukur bising usus

 

  1. kerusakan integritas kulit b/d ekskresi/BAB sering

1.      Mengkaji adnya lesi

2.      Mengkaji frekuensi diare setiap 24 jam

3.      Mengobservasi tanda – tanda kerusakan integritas kulit

4.      Memandikan ps

5.      Melakukan verbeden

 

  1. Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui

1.      mengkaji kekuatan menusui pada bayi

2.      menimbang BB

3.      Mengkaji turgor kulit

4.      Mengkaji adanya alergi

5.      Mengkaji tingkat kerajinan ibu dalam menyusui bayinya.

6.      Memberiakan diit sesuai indikasi

7.      Mengukur Hb

 

Dalam asuhan keperawatn hanya implementasi diatas saja yang dilaksanakan, ada beberapa intervensi yang tidak dilakukan karena keterbatasan waktu bagi kelompok untuk mengelola pasien.

 

E.  Evaluasi

            Dalam evaluasi ini tidak semua criteria hasil dapat tercapai karena keterbatasan waktu dari kelompok untuk mengelola asuhan keperawatan pada anak Arya.

 

BAB V

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dari hasil penerapan proses keperawatan yang kelompom lakukan pada An. A dengan Gastroenteritis diruangan Merak I RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dapat ditemukan 3 diagnosa keperawatan yang muncul yaitu:

  • Diare b.d Alergi susu sapi
  • kerusakan integritas kulit b.d ekskresi/BAB sering
  • Menyusui tidak efektif  b.d Kelemahan reflek menyusui

Setelah Perencanaan keperawatan disusun, dalam pelaksanaan keperawatan,  kelompok dapat melaksanakan semua rencana keperawatan yang telah disusun Dalam melaksanakan tindakan keperawatan kelompok bekerjasama dengan klien, keluarga, dan perawat ruangan. Selain itu, implementasi keperawatan tersebut disesuaikan dengan kondisi dan fasilitas ruangan perawatan klien.

 

B.     Saran

Bagi Institusi

Diharapkan dapat menambah koleksi bacaan di perpustakaan sehingga mudah dalam pembuatan tugas.

Bagi Rumah Sakit

Diharapkan data ini dapat menjadi referensi dalam pembuatan asuhan keperawatan yang mengacu pada standar SNL (Standard Nursing Language) yang dianjurkan oleh NANDA.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

A.H. Markum, 1991, Buku Ajar Kesehatan Anak, jilid I, Penerbit FKUI

 

Ngastiyah, 997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta

 

Price & Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1,    Ed.4, EGC, Jakarta

 

Soetjiningsih 1998, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta

 

Soeparman & Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.

 

Suharyono, 1986, Diare Akut, lembaga Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta

 

Whaley & Wong, 1995, Nursing Care of Infants and Children, fifth edition, Clarinda company, USA.

 

NIC (Nursing Intervention Classification)

 

NOC (Nursing Outcomes Classification)

 

NANDA

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s